|
Tahun 1991 adalah tahun penuh arti
bagi Dewi Motik. Betapa tidak, tahun
inilah dia mendapatkan cobaan yang
cukup berat dan sulit. Oleh seorang
warga Amerika, ia dituduh anti
kenaikan upah buruh. Tuduhan yang
diberikan kepadanya, tidak
tanggung-tanggung bertanya, fotonya
disebar-luaskan di seluruh penjuru
dunia sebagai profil wanita penekan
buruh dari Indonesia. Akhir-akhir ini
Dewi Motik sering menjadi sorotan
pembicaraan masyarakat. Selain hal
semacam di atas, ia memang termasuk
tokoh yang acap kali menjadi pembicara
di berbagai forum, juga aktif di
berbagai kepanitiaan secara akbar
semacam Festival Istiqlal. Yayasan
Putri Ayu yang dipimpin dan
didirikannya sejak tahun 1981, menjadi
perdebatan nasional. Sampai sekarang
pemilihan putri ayu sudah terlaksana
11 kali memperebutkan piala Ibu Tien
Suharto. Pemerintah pun seperti tidak
keberatan kalau Yayasan Putri Ayu,
mengirim pemenang tahun 1991 (gadis
keturunan Suku Dayak – Kalimantan)
pada acara Miss Universe ke Bangkok.
Disamping itu, belakangan ini juga,
Dewi Motik berhasil melakukan ekspansi
bisnisnya. Dia bekerjasama dengan
Departemen Transmigrasi membuka areal
seluas 5000 ha di Sumatera Selatan. Di
sana mereka membuka lahan PIR yang
diperbaharui dengan dana dari Bank
Dunia. Kesuksesan lain: tahun 1991,
Dewi Motik berhasil merampungkan
pembangunan IWAPI berlantai 4 di Kali
Pasir, Jakarta, sebagai perwujudan
perjuangannya mengembangkan
ketrampilan kaum wanita Indonesia.
Semua itu dilakukannya demi
kesejahteraan kaum hawa itu secara
khusus, dan kesejahteraan bangsa
secara umum.
Banyak hal yang terjadi pada diri Dewi
Motik. Semua itu merupakan hasil dari
deposito pengalaman dan perjuangannya
bekerja keras sejak masih Remaja.
Kesuksesan itu juga, membawa Implikasi
tertentu, kasus tuduhan Amerika di
atas tadi sebagai salah satu
Contohnya. Lepas dari itu semuanya,
banyak hal yang perlu dipelajari dari
diri seorang wanita Indonesia super
aktif ini, setidaknya, sebagai bahan
perbandingan bagi Remaja putri
khususnya, dan bagi generasi muda
umumnya. Sejak umur 14 tahun, Dewi
Motik (Sri puspa Dewi Motik) sudah
terbiasa mempunyai uang sendiri.
Banyak cara yang dilakukannya untuk
mendapat uang. Contohnya, main sulap.
Ketika beliau masih Sekolah Dasar di
Menteng, Jakarta Pusat, bersama
teman-teman sebayanya, sangat
menggemari main sulap yang dilakukan
oleh seseorang Om dekat sekolah
mereka. Om pemain sulap itu di mata
Dewi Motik, luar biasa. “Sudah
disenangi orang dapat duit lagi,”
katanya mengenang masa-masa indah itu.
Dewi Motik mendatangi rumah Om itu dan
meminta diajari main sulap. Rahasia om
itu merubah sapu tangan menjadi
kucing, bunga jadi uang, akhirnya
dengan mudah diketahui Dewi Motik.
Dari permainan sulap ini, Dewi Motik
yang lahir 10 Mei 1949 itu, bisa
menyenangkan orang sambil mendapat
uang. “Orang tua saya tidak melarang
main sulap, asal kegiatan saya itu
tidak melanggar kaidah agama dan tidak
menentang norma masyarakat,” ujarnya.
Masa Remaja Dewi Motik penuh dengan
kegembiraan dan kebahagiaan. Bukan
saja karena orang tuanya termasuk
kelas menengah saat itu, tetapi lebih
karena apa saja yang dilakukannya
tidak mendapat pengawasan yang
berlebihan dari orang tua.
Keinginannya untuk mengetahui
bermacam-macam hal, termasuk main
sulap di atas, menyebabkan banyak
temannya menyebutkan over acting.
Sejak usia itu, Dewi Motik memang
sudah memperlihatkan jiwa kepemimpinan
dan kepeloporan di tengah
teman-temannya. Ia disenangi karena ia
bisa memperjuangkan kepentingan
teman-temannya, juga karena ia relatif
bisa meminjamkan uang atau mentraktir
kawan-kawannya itu. Tidak sedikit yang
membencinya, namun alasan membencinya
itu, terutama karena Dewi Motik punya
banyak kelebihan. Termasuk
kelebihannya meraih simpatik banyak
teman pria sekelasnya. Seringkali
sikap Dewi Motik tidak perduli dengan
keadaan, ia melihat laki-laki itu sama
saja dengan perempuan, mempunyai otak,
punya tenaga, dan berperasaan. Bukan
hanya kaum wnita yang sering kalah
bersaing dengan dia, tetapi juga
teman-teman prianya. Apalagi, Dewi
Motik sebagai keturunan orang
Palembang, mempunyai kulit putih yang
mulus. Sosoknya yang tinggi semampai
disertai dengan geraknya yang menarik
dan tidak berkelebihan, menjadikannya
pusat perhatian orang setiap kali ia
hadir dalam sebuah pertemuan.
Kecantikannya semakin lengkap dengan
rambut panjangnya yang sampai sekarang
dipelihara dengan baik. Itulah
sebabnya Ikatan Mahasiswa Jakarta pada
tahun 1968, memilih Dewi Motik sebagai
Ratu Luwes. Wajar kalau kemudian
banyak pria yang dekat dan menjajal
kemampuan merebut hatinya. Namun,
baginya, sikap teman-teman pria itu
merupakan peluang emas yang perlu
dimanfaatkan. Lalu, ia menawari mereka
melakukan kegiatan-kegiatan yang
positif. Tentu saja, banyak di antara
mereka yang patuh.
Kendati mereka termasuk keluarga kaya,
namun ayahnya ingin melihat anaknya
hidup mandiri. Bisa melakukan apa saja
yang bersifat positif. Ayah Dewi Motik
bernama Basyaruddin Rahman Motik,
seorang pengusaha ekspor impor yang
terkenal di zamannya. Ia tidak
melarang Dewi Motik mencari duit. Ia
sangat mendukung segala macam kegiatan
Dewi Motik asal berkaitan dengan
kemajuan dan kemandirian. Praktek
semacam inilah yang banyak memberi
warna pada diri Dewi Motik, anak ke-4
dari 9 bersaudara itu. Ketika Dewi
Motik belajar Bahasa Inggris di
Kedutaan Perancis, ayahnya senang
sekali. Itulah kelebihan Dewi Motik,
di masa remajanya, mampu bicara dalam
bahasa Inggris, Walau pengucapannya
masih banyak yang salah.
Belajar dari sikap ayahnya itu, Dewi
Motik tidak setuju pada orang tua yang
melarang anaknya cari duit. “Apa
salahnya, sambil Sekolah, juga mencari
uang?” Menurut Dewi Motik, anak-anak
akan berkembang cepat apabila bidang
yang dipilihnya itu sangat disenangi.
Ia menyarankan, orang tua sebaiknya
memilih bidang kegiatan yang juga
disenangi anak-anak mereka. Tatkala
Dewi Motik berumur 17 tahun, ia
mendapat kiriman majalah Remaja
“Seventeen” dari kakaknya (Kemala
Motik) yang lagi belajar di Amerika
Serikat. Dalam majalah itu, Dewi Motik
melihat satu disain sepatu yang sangat
menarik. Timbul ide untuk membuatnya,
lalu, ia pun mencari tukang sepatu.
Kebetulan di belakang gedung SMA-nya
(SMA Teladan Setia Budi) ada tukang
sepatu. Setelah mengetahui berapa
biaya yang diperlukan. Dewi Motik
mengambil tabungannya dan memberi
modal kepada tukang sepatu itu. Dengan
modal Ro. 2.500 sepasang, Dewi Motik
sukses menjual puluhan sepatu itu
kepada teman-temannya dengan harga Rp.
5.000 sepasang. Ia gembira, karena
disain yang dipilihnya disenangi
teman-teman SMA-nya. Ia bangga karena
perhitungannya tepat dan mendapat
untung yang lumayan pula.
Di rumah, Dewi Motik suka membantu
ibunya memasak. Mereka memasak kue
bersama. Ibu Dewi Motik sering ketemu
dengan istri-istri pegawai kedutaan,
terutama kedutaan Amerika Serikat.
Dari ibu-ibu itu, Ibu Dewi Motik
mendapatkan pengalaman dan juga
mendapat sebagian bahan-bahan kue yang
enak. Suatu ketika, orang Kedutaan
minta dibuatkan kue yang enak, Dewi
Motik memanfaatkan kesempatan itu.
Setelah mendapat modal, ia pun
membuatnya. Hasilnya Dewi Motik
mendapat uang. Ibunya tidak marah.
Kegiatan masak memasak ini
dilakukannya terus menerus. Ini pula
yang menyebabkan Dewi Motik terpilih
sebagai Ketua Sub Konsorsium Usaha
Jasa Boga dan Memasak Depdikbud (1984
– 1987 ; 1987 – 1990). Selanjutnya,
pada tahun yang hampir bersamaan Dewi
Motik terpilih sebagai Ketua Umum
Ikatan Ahli Boga Indonesia Pusat (1987
– 1999). Kebiasaan Dewi Motik untuk
bekerja dan mencari uang sendiri,
terus berkembang. Ketika pekan raya
Jakarta yang kedua, ia menjadi penjaga
salah satu stan di pekan raya itu.
Orang tuanya membolehkannya.
Pada tahun 1970, Dewi Motik mulai
kuliah di IKIP Rawamangun. Ia memilih
jurusan pendidikan, karena baginya
profesi guru itu adalah profesi yang
mulia. Apalagi ayahnya pernah menjadi
guru di Taman Siswa. Saat itu guru
sangat terhormat di masa masyarakat.
Di kampusnya, kebiasaan Dewi Motik tak
pernah ketinggalan. Ia menjual kue dan
sepatu kepada penghuni dan pengunjung
kampus. Setelah menyelesaikan sarjana
mudanya, Dewi Motik memperdalam
ilmunya ke Amerika Serikat.
Ia mengambil Jurusan Seni Rupa Florida
International University, Miami, USA
(1971 – 1974). Ia merantau ke negeri
orang dengan modal take and give.
Kalau nggak ada uang cukup dengan
memberi perhatian atau sapaan. Ketemu
Satpam, tak ada salahnya kalau di beri
sapaan. Dari Indonesia, Dewi Motik
membawa sejumlah souvenir sebagai
hadiah kepada roang-orang disana. Ia
merasa bahwa ia orang asing di Negara
Paman Sam itu. Souvenir yang
dibawahnya antara lain: patung Bali,
perhiasan dari tulang, manik-manik.
Teman-temannya se-asrama sangat suka
dan ingin mendapatkan hadiah-hadiah
itu. Dibeli dengan harga berapa pun
mereka mau. Keinginan orang-orang Bule
itu merupakan peluang bagi Dewi Motik.
Otaknya mulai berputar. Dia
jalan-jalan ke toko-toko yang menjual
barang-barang asal Asia yang mirip
perhiasan dari Indonesia. Ia melihat
di tempat penjualan souvenir Philipina
dan Thailand, banyak yang mirip. Dewi
Motik membeli barang-barang itu, lalu
merubah bentuknya sedikit sehingga
mirip dari Indonesia, lalu di jualnya
kepada para bule-bule yang “gila”
perhiasan Indonesia itu.
Di kampusnya ia buka pameran
barang-barang perhiasan. Disebutnya
“Oriental Bazar” . Pengunjungnya
membludak, order banyak yang masuk.
Acara itu sangat sukses. Dari pameran
dan bazaar ini Dewi Motik tentu saja
mendapatkan banyak uang.
Ketika musim libur tiba. Dewi Motik
mencari kesibukannya, dia menjadi
pelayan di salah satu keluarga di
Amerika Serikat. Ia ingin merasakan
bagaimana caranya menjadi pelayan itu.
Seumur-umur ia selalu ditemani
pembantu. Sekali-sekali ada
keinginannya merasakan bagaimana
menjadi pelayan. Ia bekerja sebagai
baby sitter di salah satu keluarga di
sana.
Disamping itu Dewi Motik juga pernah
menjadi waitress di Howard Johson
Restoran.
Di situ ia mendapatkan pengalaman
bagaimana cara orang Amerika
menyiapkan makanan. Makanan apa yang
sangat mereka gemari, menjadi
pengalaman berharga buat Dewi Motik.
Lebih dari itu, ia juga mendapat duit.
Dengan duit itu, liburan ke Eropa
(sesuai anggaran dari Ayahnya), bisa
diperpanjang sampai ke Mexico. Ketika
ayahnya tahu hal itu, ayahnya tentu
saja kaget.
Ada cerita menarik ketika Dewi Motik
menjadi pekerja sebagai waitress di
Howard Johnson Restoran itu.
Ia tidak memiliki Social Security Number (SSN). Mendapatkan
itu harus ditest lebih dahulu. Dewi
Motik malas mengikuti prosedur itu
karena masih diperlukan biaya dan juga
belum tentu lulus. Dengan modal postur
tubuhnya yang tinggi dan warna
kulitnya yang putih ia mencoba membaur
di barisan orang-orang Cuba yang mirip
dengan dirinya. Orang-orang Cuba
dianggap yang berpengalaman dan pasti
sudah punya SSN, itulah yang
menyebabkan Dewi Motik lolos dari
pemeriksaan, bisa kerja dan mendapat
dolar yang lumayan.
Dewi Motik sempat 4 tahun di AS, ia
menimba banyak ilmu di sana, ia juga
mendapat banyak pengalaman yang
berharga. Selang waktu inilah yang
banyak memberi pengaruh pada hidupnya
sesudah itu. Tahun 1974 ia kembali ke
Tanah Air. Ia membantu ayahnya,
meneruskan usaha ekspor-impor. Dewi
Motik untuk pertama kali menjadi
pedagang semen. Saat itu belum ada
pabrik semen di Indonesia. Ia juga
menjadi agen mobil Merk Datsun dan
agen sepeda.
Tahun 1974-1975, Dewi Motik menjadi
agen semen. Untuk mengambil semennya,
ia mondar mandir menjumpai Pak Onggok
dari PT Ratu Salju ke Pluit. Denga
pakaian blue jeans dan mengendarai
mobil pick up, Dewi Motik masuk ke
daerah penjualan semen yang asal Korea
itu.
Rata-rata yang kesana adalah keturunan
Cina. Dewi Motik dianggap Cina. Ia
juga memang pura-pura jadi orang Cina.
Karena ia pada bulan Ramadhan
melakukan ibadah puasa, maka ia
dipanggil Mualaf Cina yang masuk
Islam. Saat itu ia agak sedih
mendengar istilah itu.
Dalam kegiatannya sebagai pedagang
itu, Dewi Motik masih menyempatkan
dirinya ikut kegiatan persatuan Wanita
Indonesia. Juga ikut kadin. Ayahnya
kemudian meninggalkan bisnis
ekspor-impor, berpindah ke bisnis sewa
menyewa rumah. Sehingga Dewi Motik
mesti lebih konsentrasi pada bidang
eksport-impor itu.
Rupanya kegiatan di atas belum cukup
buat Dewi Motik, ia juga menyisihkan
waktunya untuk mengajar di lembaga
pendidikan milik Ikaran Sarjana Wanita
Indonesia. Belakangan, di beberapa
tempat lain ia juga mengajar. “Sayang
kalau ilmu ini tidak dibagi-bagi buat
orang lain,” ujarnya.
Dampak dari pikiran dan sikapnya itu.
Dewi Motik diminta sebagai pembicara
dibanyak forum. Ratusan kali ia
menjadi pembicara di berbagai seminar.
Ia biasanya mengulas masalah
kewiraswastaan, kemandirian, etika
berbusana, dll. Bahkan pernah sekali
ia diminta oleh Kedutaan Belanda untuk
menghadiri seminar di Curasao, Amerika
latin, bekas jajahan Belanda. Mereka
berangkat kesana selama 36 jam
perjalanan. Capek sekali. Tiba di
Curasao pukul lima pagi waktu
setempat.
Sehubungan dengan penampilan Dewi
Motik di berbagai forum sebagai
speaker, mengharuskan ia memakai
pakaian dengan model-model menarik dan
maju. Akibatnya ia jadi panutan.
Sebelum itu, pada tahun 1974, Dewi
Motik pernah dinobatkan sebagai Top
Model of The Year oleh sebuah Yayasan
pengembangan mode.
Tahun 1976, Dewi Motik bersama
kakaknya Kemala Motik, melakukan
sebuah terobosan yang sangat penting
bagi kaumnya. Mereka mendirikan wadah
bagi pengusaha wanita. Mereka sebut
Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia
(IWAPI). Melalui lembaga ini, mereka
ingin menjalin kerjasama antara sesama
pengusaha wanita Indonesia. Di samping
itu, mereka juga mencoba meningkatkan
ketrampilan mereka sebagai pengusaha,
sambil mengajak lebih banyak lagi
wanita lainnya untuk bekerja dan
mencari nafkah serta berusaha
memperluas kesempatan kerja bagi orang
lain.
Kesibukannya sebagai pengusaha,
keaktifannya sebagai pengajar, dan
tugasnya sebagai pimpinan organisasi,
mengharuskan Dewi Motik selalu
berusaha mempersiapkan sesuatu sebelum
acara atau peristiwa terjadi. Mulailah
ia terbiasa membuat skedul kerja,
membuat rencana kerja, membuat tulisan
makalah dan penjelasan tertulis.
Kebiasaan baru ini, mengantar beliau
untuk menjadi seorang penulis. Maka
dari tangannya, keluarlah sebuah karya
tulis. Yang pertama; Cintaku Tuhanku
(kumpulan sajak). Kedua, Yang sopan
yang santun. Etika berbusana dan
pergaulan pada umumnya, adalah bukunya
yang ketiga.
Ia mengaku bahwa rampungya tulisan
itu, sangat dibantu oleh dua rekan
wartawati, Titi Juliasih dari Mutiara
dan Mary Zein dari Kompas. Baginya,
wartawan sangat bermakna. Ia adalah
ibarat ajinomoto dalam makanan kita.
Tanpa wartawan dengan karya-karya
tulis mereka rasanya kehidupan belum
pas. Atas komentarnya, ia mendapat
kiriman 1 karung ajinomoto. Dewi Motik
masih mampu menyisihkan waktunya untuk
menulis di banyak media, di Pelita,
Surabaya Post, Famili, Femina dan
beberapa media lainnya.
Aktivitasnya sebagai pengusaha,
sebagai guru dan penceramah, aktifis
organisasi, penulis buku dan kolumnis
beberapa media, menyebabkan Dewi Motik
dikenal secara luas oleh seluruh
lapisan masyarakat. Beberapa tahun
kemudian, sebuah lembaga menobatkannya
sebagai Wania Karir Ideal tahun 1977.
Empat tahun sesudah itu, ia dinobatkan
sebagai wanita popular. Kesenangannya
memakai busana yang baik dan sopan
setiap hari, mendorong dia menulis
etika berbusana di atas, dan karena
kegiatan itu pula ia terpilih sebagai
wanita berbusana terbaik tahun 1983.
Enam tahun sesudah itu. Dewi Motik
terpilih sebagai wanita executive
berbusana terbaik.
Dewi Motik amat menjaga tata
kesopanan, ia tahan kerja keras dari
pagi hari sampai tengah malam. Kalau
sudah capek, ia juga bisa tidur dimana
saja, sepanjang tidak mengganggu
situasi. Ia mengaku bisa tidur pulas
bila sedang dalam penerbangan dari
Amsterdam-Singapur.
Kini, ia bersama suaminya tercinta
sangat bahagia dengan dua putera
puteri mereka. Anak pertama bernama
Moza kelas III SMA sedang anak yang
kedua adalah Adimza kelas I SMP Al
Azhar. Suaminya, Pramono Soekasno,
dikenalnya sejak mereka masih SMA,
lewat acara Pesta Dansa Barata. Pria
kekar turunan Solo itu bekerja di
Pertamina. Mereka pacaran selama 9
tahun dan akhirnya kawin 9 Mei 1975.
Tahun 1977, Dewi Motik menjadi Ketua
Iwapi Jaya. Kiatnya memimpin wanita
pengusaha di DKI adalah dengan
pendekatan kebawah. Kalau ada pengurus
dan anggota yang sakit. Dewi Motik
mengajak yang lain untuk membesuk.
Demikian juga kalau ada acara pribadi
pengurus dan anggota, yang lain mesti
datang. Pendekatan selanjutnya adalah
melakukan rapat di rumah atau di
tempat usaha pengurus atau anggota.
Hal ini penting, yang di datangi
mendapat kehormatan karena orang
datang ke rumahnya atau ke tempat
usahanya. Pengurus langsung mendapat
laporan tentang perkembangan dan
kelemahan usaha anggotanya. Keuntungan
lain: biaya pertemuan tidak masuk
beban organisasi.
Pada umurnya yang ke 33, tahun 1982.
Dewi Motik terpilih sebagai Ketua Umum
IWAPI. Dalam memimpin organisasi, ia
tidak suka marah, tapi sangat sedih
kalau generasi muda itu tidak mau
belajar dan sukanya santai saja.
Banyak generasi muda di mata Dewi
Motik agak kurang memberi perhatian
untuk merancang masa depan mereka.
Sebagai contoh, ia sedih pada generasi
muda yang bekerja sebagai pemborong
gedung IWAPI berlantai 4 itu. Gedung
bernilai 750 juta itu tidak dikerjakan
dengan baik. Tehelnya nggak lurus,
plafonnya juga banyak yang bengkok.
Sudut-sudut betonnya terlihat kurang
rapi, catnya tidak merata.
“Padahal gedung ini merupakan pusat
kegiatan IWAPI, pusat pendidikan dan
latihan IWAPI, juga tempat beroperasi
koperasi IWAPI. Kalau mereka tidak
sukses mengerjakan gedung ini,
bagaimana orang lain bisa
mempercayakan mereka membangun gedung
baru lagi,” tambah Dewi Motik agak
emosi.
Setelah tamat dari IKIP tahun 1985,
Dewi Motik langsung ambil S2 tahun
1988 ia terpilih sebagai Wakil Ketua
Umum Kadin Pusat. Dia satu-satunya
wanita disitu. Ia tidak merasa risih,
karena baginya pria atau wanita sama
saja. Nilai ini juga berlaku dalam
keluarga mereka, posisi laki-laki sama
dengan wanita. Tokoh wanita yang jadi
idolanya tidak ada. Yang ia kagumi
hanya Nabi Muhammad. Kalau pun ada
tokoh Kartini, kehebatannya sebetulnya
hanya pada penalarannya, ujar Dewi
Motik. Menurutnya, Kartini mempunyai
kelebihan untuk memprediksi apa yang
akan terjadi jauh ke depan, seperti
Alvin Tofler si peramal dari Amerika
Serikat itu.
Peristiwa penting dalam sejarah
kewiraswastaan Dewi Motik, terjadi
tatkala Rombongan Delegasi Perdagangan
Indonesia berangkat ke Eropa. Dalam
rombongan yang dipimpin oleh Menteri
Prof. Dr. Soemarlin, Dewi Motik ikut
melihat pabrik garment di kota
Manchester, Inggris. Ia melihat bahan
pabrik garmen seperti itu bisa juga
dibuat di Indonesia. Sekembalinya dari
sana ia langsung membangun pabrik
garment di tanah mereka yang kosong di
Pulo Gadung (1981), PT Arrish Rulan.
Perusahaan yang memproduksi jeans dan
jacket ini berdiri di atas tanah
seluas 5.000 m2,
mempekerjakan karyawan 700 orang.
Tujuh tahun kemudian ia juga bersama
keluarganya yang lain membangun pabrik
garment yang kedua di Tanjung Priok
(PT Fauzi Dewi Motik). PT ini memiliki
karyawan 300 orang. Bangunannya adalah
gudang yang tidak dimanfaatkan
sebelumnya. Luas tanahnya 5000 m2.
Atas kegiatan usahanya itu, dibarengi
dengan keaktifannya sebagai pembicara
di berbagai forum, dan
tulisan-tulisannya. Presiden RI
Jenderal (purn) Soeharto, atas nama
pemerintah menyerahkan penghargaan
kepada Dewi Motik sebagai “Orang Muda
Yang Berkarya”. Tepat pada Upacara
puncak HUT Sumpah Pemuda, 28 Oktober
1988 di Balai Sidang Jakarta.
Makin banyak usahanya, makin intensif
kegiatannya, ia juga mendapat untung
yang semakin banyak, tapi ia merasa
ada yang belum beres. Ia berpikir
kurang bagus kalau hanya menerima
saja, sebaiknya memberi juga
diintensifkan. Lalu, pada HUT yang ke
40 tahun 1989, Dewi Motik mendirikan
De Mono. Sebuah lembaga pendidikan
ketrampilan dan kewiraswastaan yang
komplit.
Bersama Arleen Djohan wirawan, SH
menyiapkan semua keperluan sekolah
itu. Tepat hari ulang tahunnya, 10 mei
1989, Gedung De Mono yang berlantai IV
itu diresmikan oleh Menteri
Perdagangan RI, DR Arifin Siregar.
Saat itu banyak pengusaha terkenal hadir, seperti Bob Sadiro, dll.
Artis juga banyak yang hadir, acaranya
sendiri dipandu Koes Hendratmo. Tentu
saja, sebagian besar pengurus IWAPI
datang.
Mata pelajaran pada lembaga pendidikan
ini antara lain: kerja praktek dalam
merintis pembukaan usaha di bidang
perdagangan dan ekonomi, kepemimpinan,
kewiraswastaan, pemasaran, perpajakan,
perbankan, psikologi, dll. Mata
pelajaran itu, diteruskan acara tatap
muka dengan pengusaha nasional
terkemuka dan pimpinan bank-bank
pemerintah dan swasta.
Nama De Mono adalah singkatan dari
namanya dan nama suaminya. De-wi Motik
dan Pra-mono. Dan istilah De Mono ini
adalah nama Dewi Motik dalam surat
cintanya setiap kali mengirim kepada
mantan pacarnya Pramono puluhan tahun
yang lalu.
Ide pendirian De Mono pada awalnya
timbul karena sebelumnya Dewi Motik
sering mendapat surat cinta. Banyak
sarjana yang minta pekerjaan padanya.
Bahkan banyak orang tua yang suka
nitip anaknya dicarikan pekerjaan.
Awalnya senang bisa bantu cari kerja.
“Namun lama-lama nggak enak lagi,
kewalahan,” uangkapnya kesal.
Dewi Motik pernah memberi ceramah di
tengah-tengah 200 sarjana
pengangguran. “Saat itu saya tergerak
untuk mencari pekerjaan buat mereka,
tapi pekerjaan apa, dan mereka bisa
apa?” gumam Dewi Motik dalam hati. Di
Iwapi punya pengalaman mendidik
ibu-ibu untuk menjadi pengusaha kecil.
“Kalau ibu-ibu RT saja bisa, masa sih
sarjana tak bisa?” bisik Dewi Motik
memperkuat sikapnya mendirikan sekolah
kewiraswastaan.
De Mono kini telah melepaskan hampir
1000 orang alumninya.
Sebagian besar telah berhasil pula membuka usahanya.
Mereka sering mengundang Dewi Motik
untuk meresmikan pembukaan usaha
mereka itu. “Adalah kebahagiaan
tersendiri bagi saya ketika saya
sedang meresmikan usaha rintisan
alumni De mono,” ungkap Dewi Motik
penuh kebanggan.
Kunci untuk bisa sukses sebagai
seorang wiraswasta menurut Dewi Motik,
harus mampu merubah mental lebih dulu.
Sesudah itu, berani mengambil risiko.
Lalu, risiko itu diperkecil. Untuk
itu, secara terus menerus harus
mencari peluang, dan Action “Bila pipi
kiri benjol, kasih pipi kanan. Kalau
sudah lihat tembok jangan benturkan
kepala. Kalau juga mau, itu namanya
goblok,” ujar Dewi Motik. Memulai
sesuatu dengan positivie thinking dan
mempunyai keyakinan sukses adalah
nilai-nilai yang selalu diajarkan Dewi
Motik kepada anak didiknya.
Akhir September 1991 yang lalu, Dewi
Motik diminta oleh Panitia Peringatan
HUT HP PLSM yang ke XIV untuk
berbicara di depan para pimpinan PLSM
di Gedung YTKI. Menurut Dewi Motik,
inti kewiraswastaan ada dua. Pertama,
harus mempunyai jati diri, yakin akan
kemampuan sendiri, tahu ke arah mana
mau dituju, tidak malas, tidak cepat
marah, dan kerja keras. Kedua,
inovasi/kreatif, harus berani memulai,
mampu menghasilkan yang baru.
Kalau sudah memiliki kedua inti
kewiraswastaan itu, kata Dewi Motik
dalam ceramahnya yang dimoderatori
oleh Ketua Umum HP PLSM itu, maka
turutilah pedoman di bawah ini.
Buatlah program yang sederhana,
praktis dan jelas. Persiapkan semua
strategi dan kiat-kiat. Action
secepatnya. Jangan lupa kerjasama
dengan orang lain. Sekali-sekali jadi
anak buah, mau mendengar orang lain.
Learning by doing. Antisipasi semua
gejala perubahan, jangan statis.
Disiplin diri, konsisten. Untuk
memecahkan masalah, berfikirlah secara
bergantian dari mikro ke makro atau
sebaliknya.
Dalam perjalanan hidupnya. Dewi Motik
selalu merasakan kesenangan dan
kesedihan silih berganti. “Itulah
kehidupan,” katanya. Ia mengaku banyak
sekali problem yang ia jumpai
sehari-hari. Ia selalu mengambil sikap
tenang. Lalu berfikir mencari
pemecahan yang paling baik. Tapi
sehebat-hebatnya risiko yang ia hadapi
ia tak pernah gentar, ia hanya takut
sama Tuhan.
Ketika ia masih SD, secara terpaksa ia
harus membawa jenazah yang
berdarah-darah. Karena familinya itu
mati dalam kecelakaan perjalanan
semobil dengannya. Ia hadapi situasi
itu, dan ia sendiri lolos dari musibah
itu. Pengalaman yang cukup mencekam
itu sangat membekas dalam ingatannya.
Dalam situasi apa saja dan dimana
saja, sesuatu yang fatal bisa terjadi
pada diri kita, katanya. “Yang iri,
yang benci, yang marah dan yang ingin
mencelakakan kita kemungkinan ada,
tapi kalau kita sudah menyerahkan diri
kepada Tuhan, mengapa kita mesti
takut?” tanya Dewi Motik. Toh
kehidupan kita, kemampuan kita ini,
adalah pinjaman dari Tuhan, ungkap
Dewi Motik agar berkhotbah. “Kalau ada
masalah, segera lapor Tuhan dan cepat
mengambil keputusan, itulah kebiasaan
yang baik,” ujarnya.
Dua tahun lalu, kuota ekspor garment
dilarang masuk AS, ia menderita
kerugian. Lalu bersama pengusaha
garment lainnya mereka bekerjasama
dengan pemerintah mencari
pemecahannya. Sekarang sudah tak ada
masalah kuota lagi. “Untuk meraih
sukses, kita harus kreatif, lalu
menyusun konsep sederhana dan praktis,
terus action,” ujar Dewi Motik
mengungkapkan
kitanya mencapai keberhasilan.
“Jangan bikin ruwet, capek, jangan
lama-lama, peluang bisa hilang,”
pesannya kepada orang yang menanyakan
apa yang dibutuhkan untuk memulai
berusaha.
Peristiwa yang baru menghadangnya,
adalah terbitnya post card dengan
kata-kata yang sangat merugikan
dirinya. Fotonya ditaruh di post card
itu, dituduh sebagai anti kenaikan
upah buruh oleh seorang Amerika.
Menghadapi ini, Dewi Motik mengambil
sikap tenang. Sebab, ia sendiri tidak
paham apa maksud orang Amerika itu.
Apakah ini persoalan politik global
atau persoalan pribadi, tak jelas.
Sampai sekarang, Dewi Motik belum bisa
mengetahui apa tujuan pembuatan post
card itu, dan siapa yang
merekayasanya. Banyak pihak yang
menganjurkannya ke pengadilan. Namun,
Dewi Motik masih mengambil sikap
tenang. “Ini bukan peluang bisnis,
jadi tidak perlu actionnya cepat,”
ujarnya memberi keterangan.
Akhirnya ia membawa persoalan itu ke
pengadilan setelah dipikirkan secara
matang. Banyak pejabat mau berdiri di
belakangnya namun, karena si
Amerikanya minta maaf, Dewi Motik
merencanakan pembatalan tuntutan itu.
“Orang yang minta maaf perlu
dimaafkan,” kata Dewi Motik sambil
mengutip ucapan seorang nabi.
Satu-satunya yang paling membahagiaan
dalam hidup Dewi Motik adalah
melahirkan anak. “Itulah puncak
kebahagiaan yang pernah saya rasakan,”
ujarnya.
Dewi Motik adalah pribadi yang suka
pragmatis, senang yang praktis. Ia
kini sedang menggeluti S2 Program
Strategi di UI. Dalam kaitannya
sebagai praktisi ia berkeinginan
mempelajari konsep-konsep yang
praktis. Perang gerilya misalnya
sebuah konsep keilmuan di bidang
militer yang sangat praktis, tidak
terlalu teoritis. Sering melakukan Hit
and Run. Teman-temannya kuliah,
berpangkat Letkol dan Kolonel dari
angkatan bersenjata. Tak usah heran
kalau kini Dewi Motik bergelut dengan
buku-buku Mao Tse Tung, Buku Pak
Nasution tentang Perang Gerilya.
Prinsip Dewi Motik, kalau melihat
orang lain punya kelebihan jangan iri.
“Kita harus belajar untuk bisa
mendapatkan; seperti yang mereka
dapatkan.
Sistem pendidikan di departemen Hankam misalnya, memberi
hasil yang baik.
Mayoritas pimpinan terbaik bangsa ini
lahir dari pendidikan militer. Kita
jangan iri. Kita buat yang sama, kita
kerja keras dan tingkatkan disiplin,”
ujarnya. Pernyataan Dewi Motik memang
ada benarnya. Kalau diperhatikan,
sistem rekruitmen kepemimpinan
nasional, memang banyak muncul dari
kalangan militer. Kelebihan mereka
antara lain, tidak neko-neko, mampu
berpikir sistematis, punya visi, daya
tahan fisik cukup kuat, dan memiliki
sense of joke (rasa humor). Hari-hari
Dewi Motik yang penuh dengan kesibukan
itu, selalu diawali dengan baca koran
di pagi hari. “Saya gelisah kalau tak
baca koran di pagi hari,” ujarnya.
Hobby lain: nonton TV dan berenang.
Kalau musim libur, Dewi Motik
sekeluarga sering berlibur ke luar
negeri. Bila ada rapat atau konferensi
di Bali misalnya, Dewi Motik juga
sering mengajak keluarga ke sana,
sekalian liburan.
Dewi Motik mengaku suaminya cukup
pengertian. Baginya, sesibuk-sibuk
istri, bila selalu menghargai suami
dan memberi pengertian, tidak akan ada
masalah. Kendati demikian, tokoh
wanita yang paling sering muncul di
media massa itu, mengungkapkan: tidak
ada suami istri yang cocok 100%.
Antara segala macam kegiatan dengan
masalah keluarga, sering bertolak
belakang. Kadangkala, setiap orang
diharuskan untuk menentukan pilihan.
Bila kenyataan yang sama ditemui Dewi
Motik dalam kehidupannya sehari-hari,
ia melakukan dengan skala prioritas.
Sebagai contoh, ketika ada pertemuan
penting di kantornya, padahal, pada
saat yang sama ibunya dikabarkan
sakit, dan akan dioperasi, aktivis
Muhammadiyah ini harus memilih
meninggalkan pertemuan penting
menyangkut kariernya itu. Sebab,
posisi orang tua baginya adalah
segala-galanya. Sedangkan pertemuan
tadi masih bisa terulang, atau
resikonya tidak separah kalau ia tidak
membesuk ibunya.
Sebaliknya, ketika anaknya sakit,
padahal ia harus memimpin delegasi
Indonesia yang menghadiri pertemuan
pengusaha wanita di India, Dewi Motik
memilih Berangkat ke pertemuan yang
dibuka oleh Perdana Menteri India,
Almarhum Indira Gandhi itu. Bukan
karena tega atau tidak sayang anak,
tapi hal ini didiskusikan dulu dengan
suaminya, setelah setuju ia lalu pergi
menunaikan tugas negara dalam
memperluas cakrawala pengusaha wanita
Indonesia itu.
Alasan Dewi Motik kenapa menekuni
dunia pendidikan – mengajar,
berceramah, menulis – dan dunia
wiraswasta, karena Bangsa Indonesia
sangat tertinggal bila dibanding
dengan negara maju, dalam berbagai
bidang, “Persaingan semakin ketat,
dunia pengetahuan dan teknologi
berkembang dengan pesatnya. Kita harus
berlari semakin cepat,” ujarnya.
Caranya menurut Dewi Motik: pendidikan
ditingkatkan dan harus dibuat gratis,
agar strata pendidikan masyarakat kita
relatif merata. Akhirnya mereka bisa
mencari nafkah sendiri tanpa harus
menyandang gelar pengangguran lebih
dulu, tambahnya. Untuk mengatasi
pengangguran, katanya, sekaligus
meningkatkan pertumbuhan ekonomi,
dunia wiraswasta harus digiatkan terus
menerus. Rakyat mesti dianjurkan
menciptakan lapangan kerja bagi
dirinya sendiri dan bagi orang lain,
tambah Dewi Motik. Menurutnya,
membangun perekonomian dari sebuah
bangsa lebih baik dimulai dari yang
kecil, lalu didorong menjadi yang
besar. Itu semua, lanjut Dewi Motik,
sangat tergantung pada political will
pemerintah.
Dewi Motik mengambil contoh AS dan
Jepang, mereka itu sangat
berkepentingan membantu pengusaha
kecil mereka, baik bantuan modal,
perlindungan hukum dan berbagai
insentif lainnya. Dewi Motik mengaku
bahwa Indonesia mempunyai kebijakan
yang sama, Kredit Usaha Kecil (KUK)
misalnya, namun hal itu, harus ada
perbaikan dan konsistensinya.
Terpilihnya Indonesia sebagai
Pelaksana Konferensi Tingkat Tinggi
negara-negara Non Blok, menurut Dewi
Motik merupakan pertanda bahwa
Indonesia termasuk negara aman di Asia
Tenggara. Katanya: itu adalah peluang,
sebab banyak negara luar tidak begitu
kenal Indonesia, boro-boro mau
berinvestasi. Setiap investasi
memerlukan perencanaan menyeluruh,
selain faktor keamanan di atas,
potensi sumber daya alam, pasar,
tenaga kerja, dll juga perlu
diperhatikan. “Tenaga kerja atau buruh
adalah merupakan kekuatan dari sebuah
badan usaha atau industri,” ujar Dewi
Motik. Karena itu, lanjutnya, buruh
harus diberi perhatian seperlunya,
kalau tidak perusahaan tempat buruh
itu bekerja bisa rusak programnya.
Dewi Motik memang luar biasa sibuk.
Dalam kapasitasnya, sebagai Direktur
Utama Restoran Manari – restoran
theaterical
pertama dan terbesar di Jakarta –
dengan pengalaman jasa boga
sebelumnya. Dewi Motik terpilih
sebagai Ketua Umum IKABOGA periode
1990 – 1993. Dalam Festival Istiqlal
yang baru lalu, Dewi Motik termasuk
salah seorang panitia perancang dan
pelaksananya. “Nafas Islam adalah
nafas yang paling mendasar dalam
memberi pengaruh pada pembangunan di
Indonesia,” katanya memberi alasan
keterlibatannya pada festival itu.
Kegiatan bernafaskan Islam memang
menjadi bagian kegiatan yang digeluti
Dewi Motik sehari-hari. Bahkan, ia
juga termasuk pimpinan Yayasan Motik –
sebuah Yayasan yang mengelola Sekolah
Al Rahman (TK dan SD Islam di
Kuningan). Tujuan Yayasan ini: Syariah
Islam di bidang pendidikan bagi bangsa
dan negara.
Dalam rangka meningkatkan pendidikan
Remaja putri, sekaligus mengembangkan
sektor pariwisata dan dunia usaha
lainnya. Dewi Motik sejak 1981,
mendirikan Yayasan Putri Ayu. Yayasan
yang dipimpinnya ini, telah
menyelenggarakan 11 kali lomba putri
ayu yang memperebutkan piala Ibu Tien
Suharto. Pemenang yang ke 11, tahun
1991 ini, adalah seorang mahasiswa
sebuah institut ternama di Jakarta.
Tahun depan, kalau tidak ada halang
melintang, gadis keturunan Dayak itu –
suku pedalaman Kalimantan – akan
mengikuti Miss Universe di Bangkok.
Sambil
menjalankan semua itu, ekspansi
dibidang usaha, sebagai praktisi
wiraswasta, Dewi Motik terus melaju
mencari peluang usaha, mencari uang
dan memperluas lapangan kerja. Tahun
1991, Dewi Motik bekerjasama dengan
Departemen Transmigrasi mengelola Agro
Bisnis di Sumatera Selatan, asal
leluhurnya. Bisnis yang dibiayai oleh
Bank Dunia ini, mengelola PIR dalam
bentuk yang diperbaharui seluas 5000
Ha. Dewi Motik terus berlari,
mendidik, mencari peluang bisnis,
memberi peluang kerja bagi orang lain,
buat pengabdiannya bagi ibu pertiwi.
Selamat buat BU DEWI
|